Melalui Munsya 2026, para siswa juga diharapkan terbiasa menghadapi perbedaan pendapat secara dewasa, tanpa harus berujung pada perselisihan.
"Kalau berbeda pendapat itu tidak harus bersinggungan, bermusuhan, tetapi sebagai proses kedewasaan," kata Nanang.
Dia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri siswa dalam menyampaikan gagasan, bernegosiasi, serta mempertahankan pendapat ketika berhadapan dengan peserta dari berbagai latar belakang negara.
Munsya 2026 merupakan kompetisi simulasi sidang PBB yang diikuti siswa dari berbagai daerah, termasuk Jabodetabek, Bandung, hingga Lampung.
Dalam kegiatan ini, peserta berperan sebagai diplomat yang mewakili negara-negara tertentu untuk membahas dan mencari solusi atas berbagai persoalan global.
Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama dalam menyampaikan gagasan dan argumentasi selama persidangan.
Nanang berharap kegiatan semacam ini dapat melahirkan generasi muda Indonesia yang memiliki wawasan global dan kelak mampu berkiprah sebagai diplomat maupun negosiator di tingkat internasional.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
