Dunia Kerja Berubah, Siswa SMK Perlu Kuasai AI dan Soft Skills
BOGOR, iNewsTangsel.id - Kebutuhan keterampilan di dunia kerja terus berubah seiring pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) . Kondisi ini menuntut siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tapi juga kemampuan non-teknis atau soft skills agar lulusan lebih siap menghadapi tuntutan industri.
Salah satu upaya itu dilakukan oleh DBS Foundation bersama Dicoding dengan menyelenggarakan Coding Camp Workshop di SMK Wikrama Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).
"Inisiatif ini merupakan sebuah pelatihan luring yang dirancang untuk membekali siswa SMK dengan kompetensi teknologi AI, literasi keuangan dan soft skill bagi siswa sebagai bekal memasuki dunia kerja," kata Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.
Menurutnya, pelatihan ini menunjukkan komitmennya untuk membekali kaum muda khususnya para pelajar SMK dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini dan di masa depan, khususnya di era AI seperti sekarang ini.
"Sehingga mereka memiliki peluang dan kesempatan untuk maju dan berkembang. Hal ini selaras dengan misi kami untuk mendorong inklusi keuangan dan digital,” ujar Monika.
Dijelaskan, perubahan lanskap industri menunjukkan, literasi AI kini menjadi kompetensi dasar, bukan lagi sekadar nilai tambah. Data Indonesian Developer Outlook 2026 mencatat sekitar 86 persen pengembang di Indonesia telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya.
"Hal ini menandakan adanya pergeseran signifikan terhadap standar keterampilan yang dibutuhkan di sektor teknologi. Tidak hanya kemampuan teknis, siswa juga dituntut memiliki keterampilan non-teknis seperti komunikasi, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, serta kolaborasi lintas disiplin. Kombinasi ini penting untuk mendukung produktivitas dan inovasi di lingkungan kerja modern," ulasnya.
Sementara itu, Kepala SMK Wikrama Bogor, Iin Mulyani, menambahkan, pembelajaran saat ini harus relevan dengan kebutuhan industri. Untuk itu, siswa perlu dibekali kemampuan untuk terus belajar, berani bereksperimen, serta menjaga integritas sebagai dasar profesionalisme.
“Dunia kerja ke depan membutuhkan individu yang adaptif dan mampu menciptakan solusi. Karena itu, pendidikan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter,” ucap Iin.
Dia menerangkan, pelatihan yang diikuti sebanyak 155 siswa ini mencakup literasi keuangan dan pengembangan diri. Materi ini dinilai penting agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengelola keuangan dan membangun personal branding untuk masa depan.
"Pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik dapat meningkatkan kesiapan kerja lulusan. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri menjadi langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan," tutup Iin.
Editor : Elva Setyaningrum