Anak 10 Tahun di Tegal Hadapi Risiko Diabetes dan Diare, Cerminan Krisis Kesehatan RI
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kisah seorang anak bernama Bunga (10) dari Tegal, Jawa Tengah, menjadi potret nyata tantangan kesehatan ganda di Indonesia yang masih luput dari perhatian. Di usia muda, ia menghadapi risiko diabetes yang tak terdeteksi sekaligus diare berulang akibat sanitasi lingkungan yang buruk.
Bunga diketahui sempat memiliki kadar gula darah tinggi saat berusia sembilan tahun. Namun, tidak ada pemeriksaan lanjutan maupun diagnosis medis yang memastikan kondisinya. Di sisi lain, ia kerap mengalami diare hingga dehidrasi karena penggunaan air sumur yang tercemar serta kebiasaan hidup bersih yang belum optimal.
Pakar kebijakan kesehatan dari Network for Advancing Development and Innovation in Health (NADI), Dr. Widyaretna Buenastuti, menyebut kondisi ini mencerminkan masalah sistemik. “Bunga bukan hanya satu kasus. Ia mencerminkan sistem di mana risiko kesehatan terus terakumulasi tanpa deteksi dini dan pencegahan yang efektif,” ujarnya dalam keterangan, Senin (4/5/2026).
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan tantangan serupa terjadi secara luas. Sebanyak 11,7% orang dewasa mengalami diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah, namun banyak yang tidak menyadarinya. Sementara itu, 5,2% anak usia 1–4 tahun masih mengalami diare, dan lebih dari separuh masyarakat belum menerapkan cuci tangan dengan benar.
Masalah ini diperparah dengan rendahnya kebiasaan pemeriksaan kesehatan. Tercatat, 66,4% orang dewasa tidak pernah memeriksa kadar gula darah mereka, sehingga risiko penyakit kronis kerap terlambat ditangani.
Pemerintah sebenarnya telah menggulirkan berbagai program seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) hingga kampanye pencegahan penyakit menular. Namun, implementasi di lapangan dinilai belum sepenuhnya efektif mendorong perubahan perilaku.
Menurut Widyaretna Buenastuti, tantangan terbesar bukan pada kurangnya program, melainkan bagaimana memastikan masyarakat benar-benar mengubah kebiasaan sehari-hari. “Kesadaran saja tidak cukup. Dampak nyata baru terlihat jika ada perubahan perilaku yang konsisten,” katanya.
Ia menekankan perlunya pendekatan lebih komprehensif, mulai dari segmentasi intervensi kesehatan, penguatan jembatan antara edukasi dan aksi nyata, hingga konsistensi pesan kesehatan di berbagai platform.
Kisah Bunga pun menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan di Indonesia tidak hanya soal penyakit menular atau tidak menular semata, melainkan kombinasi keduanya yang saling memperparah.
Tanpa intervensi yang tepat dan berkelanjutan, kondisi serupa berpotensi terus berulang—dan berdampak pada kualitas generasi mendatang.
Editor : Hasiholan Siahaan