get app
inews
Aa Text
Read Next : KLH Perkuat Mitigasi Emisi Metana Sektor Sampah Lewat Proyek ASEAN-Korea

Pengurangan Emisi Metana Sektor Migas Jadi Langkah Strategis Pengendalian Perubahan Iklim

Selasa, 09 Juni 2026 | 18:38 WIB
header img
Diskusi media mengenai pengelolaan emisi metana yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan ahli dan organisasi internasional di Jakarta. Foto: ist

Senada dengan hal tersebut, Lead Coordinator dari UN Environment Programme's International Methane Emissions Observatory, Monica Bergeron, menegaskan bahwa penanganan metana kini menjadi prioritas aksi iklim global karena mampu memberikan dampak instan terhadap perlambatan pemanasan global. Metana hanya bertahan sekitar 10 tahun di atmosfer, berbeda dengan karbon dioksida yang mengendap hingga ratusan tahun, sehingga manfaat dari pengurangannya akan dirasakan jauh lebih cepat oleh bumi.

Monica menambahkan, jika target Global Methane Pledge untuk memangkas emisi metana sebesar 30 persen berhasil dicapai, maka kenaikan suhu global dapat ditekan sekitar 0,2 derajat Celsius. Angka tersebut sangat signifikan mengingat saat ini bumi telah mengalami kenaikan suhu sekitar 1,2 derajat Celsius dibandingkan dengan era pra-industri. Pengurangan emisi ini juga membawa manfaat tambahan seperti peningkatan kualitas udara, kesehatan masyarakat, efisiensi operasional industri, hingga penguatan ketahanan energi.

Terkait implementasi di lapangan, Monica menjelaskan peran Oil and Gas Methane Partnership 2.0 yang kini beranggotakan sekitar 160 perusahaan dari 90 negara dan mewakili hampir separuh produksi minyak dan gas dunia. Sejumlah perusahaan yang beroperasi di Indonesia, seperti Pertamina, Medco Energy, BP, ENI, hingga Chevron, telah terlibat dalam inisiatif ini. OGMP 2.0 mendorong industri untuk beralih dari metode perhitungan emisi berbasis estimasi menuju pengukuran langsung di lapangan guna mendeteksi dan mengurangi emisi dari sumber-sumber utama secara akurat.

Lebih lanjut, Candra Sutama menekankan bahwa transparansi pengelolaan emisi metana kini semakin memengaruhi daya tarik investasi global. Banyak investor internasional dan negara pengimpor energi seperti Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara Eropa mulai menjadikan komitmen pengurangan emisi sebagai indikator utama dalam pengambilan keputusan investasi. Uni Eropa bahkan telah menerapkan aturan ketat mengenai pelaporan emisi metana terhadap produk minyak dan gas yang diimpor dari negara lain.

Melihat perkembangan global tersebut, Candra mendorong perlunya penguatan regulasi nasional di Indonesia, mengingat sebagian besar komitmen yang ada saat ini masih bersifat sukarela. Ia mencontohkan keberhasilan Norwegia yang telah menerapkan regulasi pengendalian emisi metana sejak era 1970-an, serta Kanada yang menerapkan target ketat untuk memangkas emisi sektor energi. Menurutnya, kombinasi antara regulasi yang kuat, pengukuran langsung di lapangan, dan pemanfaatan gas bocor akan memberikan keuntungan ganda bagi ekonomi dan lingkungan.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut