get app
inews
Aa Text
Read Next : Menkes Soroti Ketimpangan Alat Kesehatan di Luar Jawa

Penyakit Ginjal Kronis Ancam Jutaan Warga, Transformasi Layanan Kesehatan Dipercepat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 14:46 WIB
header img
Pengembangan layanan berbasis inovasi dan integrasi diperkirakan akan menjadi arah utama sistem kesehatan nasional, terutama dalam penanganan penyakit katastropik yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan biaya tinggi. Foto Hasiholan

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Peningkatan kasus penyakit ginjal di Indonesia mendorong kebutuhan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan berbasis teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ginjal kronis (PGK) menjadi salah satu masalah kesehatan serius dengan jutaan masyarakat terdampak dan angka kematian yang terus meningkat.

Data menunjukkan lebih dari 33 juta penduduk Indonesia hidup dengan penyakit ginjal kronis, menjadikannya salah satu penyebab kematian utama. Tanpa penanganan yang optimal, sebagian pasien berisiko berkembang ke tahap akhir yang membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi.

Kondisi tersebut memicu transformasi layanan uro-nefrologi, termasuk penguatan diagnosis presisi, pemanfaatan teknologi bedah modern, serta pendekatan multidisiplin dalam penanganan pasien. Integrasi layanan dari deteksi dini hingga perawatan pasca tindakan dinilai penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.

Salah satu upaya penguatan layanan dilakukan melalui forum ilmiah dan kolaborasi tenaga kesehatan. Simposium uro-nefrologi yang melibatkan ratusan dokter dan puluhan pembicara nasional maupun internasional menjadi wadah untuk mempercepat adopsi inovasi medis dan praktik berbasis bukti di Indonesia.

CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan kebutuhan layanan uro-nefrologi yang terus meningkat harus diimbangi dengan peningkatan kapabilitas sistem kesehatan. “Integrasi layanan mulai dari diagnosis, tindakan medis hingga pemantauan pasien sangat penting untuk menghasilkan outcome klinis yang lebih baik dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan berkualitas,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), menekankan bahwa masa depan penanganan penyakit uro-nefrologi bergantung pada pendekatan yang menyeluruh. “Penanganan tidak hanya pada tindakan medis, tetapi juga mencakup deteksi dini, teknologi presisi, serta pemantauan jangka panjang agar pasien mendapatkan terapi yang tepat dan optimal,” jelasnya.

Di tengah tantangan tersebut, penguatan kompetensi tenaga kesehatan, kolaborasi lintas disiplin, serta pemanfaatan teknologi medis menjadi kunci dalam menjawab lonjakan kasus penyakit ginjal di Indonesia. Transformasi layanan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas perawatan sekaligus menekan angka komplikasi dan kematian akibat penyakit ginjal.

Ke depan, pengembangan layanan berbasis inovasi dan integrasi diperkirakan akan menjadi arah utama sistem kesehatan nasional, terutama dalam penanganan penyakit katastropik yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan biaya tinggi.

Editor : Hasiholan Siahaan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut