Konflik Yayasan Syarief Hidayatullah VS UIN, Orang Tua Siswa Ikut Turun Tangan
PAMULANG, iNewsTangsel – Keterlibatan sejumlah orang tua siswa dalam konflik antara Yayasan Syarief Hidayatullah dan Universitas Islam Negeri, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta disebut bukan atas permintaan maupun instruksi pihak yayasan.
Orang tua disebut turun tangan karena muncul kekhawatiran terhadap kondisi anak-anak mereka setelah terjadi ketegangan di lingkungan sekolah.
Kuasa hukum Yayasan Syarief Hidayatullah, Wahid Pujianto Fani, menegaskan sejak awal pihak yayasan justru berupaya agar persoalan internal dengan UIN tidak sampai diketahui para wali murid.
Langkah itu dilakukan agar orang tua tetap merasa nyaman menyekolahkan anaknya dan para siswa tidak ikut terbebani konflik orang dewasa.
"Kami sama sekali tidak melibatkan wali murid. Justru kami mengupayakan bagaimana wali murid tidak mengetahui persoalan yayasan, agar mereka nyaman menyekolahkan anak-anaknya di sini dan anak-anaknya pun nyaman sekolah di sini," ujar Wahid saat konferensi pers di Yayasan Syarief Hidayatullah, Selasa (8/9/2026).
Namun, menurut Wahid, situasi berubah setelah terjadi penggerudukan pada 4 Juni 2026 dan kembali terjadi pada 22 Agustus 2026.
Peristiwa tersebut membuat persoalan yang sebelumnya berusaha dijaga agar tidak masuk ke ruang publik akhirnya diketahui oleh sebagian orang tua.
Kekhawatiran pun muncul. Orang tua tidak lagi melihat persoalan tersebut semata sebagai konflik antara yayasan dan UIN, tetapi mulai mempertimbangkan dampaknya terhadap anak-anak mereka yang berada di lingkungan sekolah.
"Mereka tidak lagi bertindak sebagai orang tua murid, tetapi bagaimana melindungi anaknya supaya anaknya itu nyaman dan tidak trauma," kata Wahid.
Wahid kembali menegaskan, kehadiran orang tua di tengah situasi tersebut bukan karena digerakkan yayasan.
Menurutnya, para orang tua mengambil sikap secara mandiri karena mereka memiliki kekhawatiran terhadap keamanan dan kondisi psikologis anak-anaknya.
"Keberadaan orang tua murid hari ini bukan atas perintah yayasan. Sekali lagi, bukan atas perintah yayasan, tetapi atas keinginan mereka sendiri untuk melindungi anak-anaknya," tegasnya.
Dengan demikian, keterlibatan orang tua disebut sebagai respons terhadap situasi yang mereka anggap berpotensi mengganggu kenyamanan anak saat berada di sekolah.
Bagi orang tua, anak-anak tetap harus mendapatkan rasa aman untuk belajar meskipun konflik antara yayasan dan UIN belum terselesaikan.
Yayasan menilai kekhawatiran orang tua tersebut merupakan hal yang wajar. Sebab, siswa usia TK hingga SD masih berada dalam fase penting perkembangan dan pembentukan karakter.
Wahid khawatir apabila anak-anak terus melihat ketegangan maupun tindakan yang disebut sebagai kekerasan, pengalaman tersebut dapat membekas secara psikologis.
"Kita semua tahu bahwa masa TK sampai SD adalah masa-masa emas. Kami tidak ingin mencampuri atau mengotori pemikiran anak-anak dengan pemikiran kekerasan," ujarnya.
Karena itu, menurut yayasan, alasan utama orang tua akhirnya ikut bersuara bukan untuk masuk ke dalam konflik kelembagaan, melainkan untuk memastikan anak-anak mereka tetap aman dan tidak mengalami trauma.
Persoalannya pun kini tidak lagi hanya menyangkut hubungan antara Yayasan Syarief Hidayatullah dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ada kekhawatiran bahwa konflik tersebut justru menyeret pihak yang tidak memiliki kepentingan di dalamnya, yakni para siswa.
Orang tua akhirnya ikut turun tangan bukan untuk memenangkan konflik yayasan atau UIN, melainkan karena mereka merasa perlu memastikan anak-anak mereka tidak menjadi korban dari perseteruan orang dewasa.
Editor: Aris