JAKARTA, iNewsTangsel.id - Keindahan alam saja tidak lagi cukup untuk menarik wisatawan asing datang ke Indonesia. Untuk itu, pengembangan destinasi harus mampu menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas, didukung fasilitas yang memadai, serta mengedepankan prinsip keberlanjutan agar mampu bersaing di pasar global.
Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Ahmad Fajar mengatakan, pengembangan destinasi wisata harus dilakukan melalui pembangunan ekosistem yang terintegrasi, bukan sekadar membangun hotel atau objek wisata. Maka, destinasi perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari akomodasi bagi pekerja, kawasan komersial, lapangan golf, hingga resor premium yang mampu menarik wisatawan dengan daya beli tinggi.
"Untuk itu, kami ingin membangun sebuah ekosistem destinasi sehingga wisatawan memperoleh pengalaman yang lengkap ketika berkunjung," ujar Ahmad International Tourism Seminar, bertema "Prospects For The Industry Amid Economy Challenges, Jumat (24/7/2026).
Ia mencontohkan pengembangan kawasan The Mandalika yang diarahkan menjadi destinasi wisata terpadu dengan berbagai fasilitas pendukung untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi di kawasan tersebut.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Pauline Suharno. Menurutnya, tren wisata global telah bergeser. Wisatawan, khususnya generasi muda, kini lebih mengutamakan pengalaman atau experience dibanding sekadar menikmati atraksi maupun berfoto di destinasi wisata.
"Yang dicari sekarang bukan hanya atraksi, tetapi bagaimana pengalaman yang mereka rasakan selama perjalanan. Itu yang nantinya akan mereka bagikan di media sosial," katanya.
Pauline menjelaskan, perubahan perilaku wisatawan juga diikuti meningkatnya kepedulian terhadap isu lingkungan. Wisatawan kini semakin kritis terhadap kebersihan destinasi, pengelolaan sampah, hingga komitmen pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
"Karena itu, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan harus dibarengi dengan upaya menjaga kualitas destinasi agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan maupun menurunkan kenyamanan wisatawan," ungkapnya.
Terkait kondisi ekonomi global, ia menambahkan, pariwisata turut memengaruhi pola belanja wisatawan. Meski minat berkunjung ke Indonesia masih tinggi, banyak wisatawan memilih menunda perjalanan akibat ketidakpastian ekonomi dan situasi geopolitik.
"Wisatawan yang tetap melakukan perjalanan pun mulai menghemat anggaran, misalnya dengan memilih kelas penerbangan yang lebih rendah atau menginap di hotel berbintang lebih rendah dibanding sebelumnya," paparnya.
Meski demikian, Pauline menilai agen perjalanan tetap memiliki peran penting karena mampu menawarkan paket wisata dengan harga yang lebih kompetitif melalui kerja sama dengan maskapai, hotel, dan penyedia jasa wisata lainnya.
"Selain itu, pengembangan destinasi harus yang lebih inklusif. Indonesia masih perlu meningkatkan fasilitas bagi penyandang disabilitas agar seluruh wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman.
"Kita juga perlu memikirkan fasilitas yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas dan wisatawan lanjut usia. Ini menjadi salah satu indikator kualitas destinasi wisata," ujarnya.
Pauline juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun pariwisata nasional. Pengembangan destinasi tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata maupun pelaku usaha, tapi juga memerlukan dukungan semua pihak dalam menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan kawasan wisata.
"Edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat ekonomi sektor pariwisata juga perlu diperkuat agar tercipta kesadaran bersama untuk menjaga destinasi sebagai aset yang mampu menggerakkan perekonomian daerah," tegasnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
