Namun, menurut Wahid, situasi berubah setelah terjadi penggerudukan pada 4 Juni 2026 dan kembali terjadi pada 22 Agustus 2026.
Peristiwa tersebut membuat persoalan yang sebelumnya berusaha dijaga agar tidak masuk ke ruang publik akhirnya diketahui oleh sebagian orang tua.
Kekhawatiran pun muncul. Orang tua tidak lagi melihat persoalan tersebut semata sebagai konflik antara yayasan dan UIN, tetapi mulai mempertimbangkan dampaknya terhadap anak-anak mereka yang berada di lingkungan sekolah.
"Mereka tidak lagi bertindak sebagai orang tua murid, tetapi bagaimana melindungi anaknya supaya anaknya itu nyaman dan tidak trauma," kata Wahid.
Wahid kembali menegaskan, kehadiran orang tua di tengah situasi tersebut bukan karena digerakkan yayasan.
Menurutnya, para orang tua mengambil sikap secara mandiri karena mereka memiliki kekhawatiran terhadap keamanan dan kondisi psikologis anak-anaknya.
"Keberadaan orang tua murid hari ini bukan atas perintah yayasan. Sekali lagi, bukan atas perintah yayasan, tetapi atas keinginan mereka sendiri untuk melindungi anak-anaknya," tegasnya.
Editor : Aris
Artikel Terkait
