CIPUTAT, iNewsTangsel – Nama Ciputat di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, memiliki cerita sejarah yang berkaitan dengan kondisi alam pada masa lampau. Wilayah yang kini berkembang menjadi kawasan perkotaan itu disebut telah dikenal sejak era kolonial Belanda, ketika kawasan di sekitar Batavia masih didominasi lahan hijau dan aktivitas pertanian.
Berdasarkan informasi yang berhasil dikutip iNewsTangsel menjelaskan, bahwa salah satu versi asal-usul nama Ciputat menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari dua unsur kata dalam bahasa Sunda, yakni ci yang berarti air atau sungai dan putat, nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di sekitar sumber air, Minggu (25/10/2026).
Penjelasan tersebut tercatat dalam sejumlah tulisan sejarah lokal, termasuk buku Kisah Ciputat & Serpong Tempo Doeloe karya Argi Arafat yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan pada 2020.
Jejak sejarah Ciputat dapat ditelusuri melalui arsip dan peta lama. Arsip Sejarah Nusantara yang dikelola Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat peta bertajuk Map of the land of Ciputat yang dibuat pada Desember 1768.
Selain itu, terdapat dokumen pengukuran tanah bertanggal 21 Desember 1778 yang menyebut wilayah Ciputat dengan ejaan lama Tjipoetat. Catatan tersebut menjadi bukti bahwa nama Ciputat telah digunakan dalam dokumentasi wilayah pada masa kolonial.
Sementara itu, sejumlah sumber sejarah lokal menyebut Ciputat telah dikenal sejak 1724. Informasi tersebut dikaitkan dengan catatan sejarah kawasan Batavia dan sekitarnya yang dibahas dalam buku Kisah Ciputat & Serpong Tempo Doeloe.
Catatan peta dan dokumen kolonial tersebut memperlihatkan bahwa Ciputat bukanlah kawasan yang baru muncul dalam perkembangan perkotaan modern. Wilayah ini telah memiliki jejak administratif sejak berabad-abad lalu.
Cerita asal-usul nama Ciputat tidak terlepas dari keberadaan pohon putat. Menurut penuturan sejarah lokal, pohon tersebut dahulu banyak ditemukan di sekitar aliran air dan kawasan yang sekarang berkembang menjadi permukiman serta pusat perdagangan.
Daun putat juga disebut dimanfaatkan masyarakat sebagai lalapan. Keberadaan tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari itu kemudian dipercaya menjadi salah satu unsur yang melatarbelakangi penamaan Ciputat.
Meski demikian, penjelasan mengenai asal-usul nama tersebut perlu dipahami sebagai versi sejarah lokal. Penelusuran arsip dan kesaksian masyarakat masih diperlukan untuk memperjelas proses terbentuknya nama Ciputat.
Perubahan lingkungan dari kawasan yang dahulu banyak ditumbuhi pepohonan menjadi daerah perkotaan membuat kisah tentang pohon putat semakin menarik untuk ditelusuri. Nama Ciputat menjadi pengingat akan hubungan antara lingkungan alam dan identitas masyarakat pada masa lalu.
Sebelum berkembang menjadi kawasan perkotaan, Ciputat dikenal dalam berbagai catatan sejarah lokal sebagai wilayah yang memiliki aktivitas pertanian dan menghasilkan hasil bumi.
Letaknya di selatan Batavia membuat kawasan ini memiliki keterkaitan dengan perkembangan daerah-daerah di sekitar ibu kota kolonial. Seiring waktu, aktivitas perdagangan dan pertumbuhan permukiman turut membentuk karakter Ciputat.
Kawasan Pasar Ciputat kemudian berkembang sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Aktivitas perdagangan, transportasi, dan interaksi penduduk dari berbagai wilayah menjadikan Ciputat sebagai kawasan yang semakin ramai.
Sejumlah tulisan sejarah juga menggambarkan masyarakat Ciputat pada masa lalu sebagai komunitas yang beragam, antara lain terdiri atas masyarakat Sunda, Betawi, Arab, dan Tionghoa. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan sosial kawasan Ciputat.
Sejarah Ciputat tidak hanya berkaitan dengan asal-usul nama dan perkembangan ekonomi. Kawasan ini juga disebut memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Ciputat menjadi salah satu titik penting dalam pergerakan pejuang melawan pasukan Belanda di kawasan pinggiran Batavia setelah Indonesia merdeka.
Jembatan Pasar Jumat, yang berada di jalur penghubung kawasan tersebut, turut disebut dalam kisah pertempuran antara pejuang Indonesia dan tentara Belanda. Catatan mengenai peristiwa itu menunjukkan bahwa Ciputat memiliki kaitan dengan dinamika perjuangan kemerdekaan di sekitar Jakarta.
Jejak perjuangan tersebut menambah dimensi sejarah Ciputat, dari kawasan yang namanya dikaitkan dengan lingkungan alam menjadi wilayah yang juga menyimpan cerita tentang perjuangan bangsa.
Dalam perkembangan administrasi pemerintahan, Ciputat sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang. Perubahan besar terjadi ketika Kota Tangerang Selatan resmi dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008.
Pembentukan daerah otonom tersebut menjadi babak baru bagi Ciputat bersama wilayah lain yang kini masuk dalam administrasi Kota Tangerang Selatan.
Ciputat kemudian berkembang sebagai salah satu kawasan penting dengan aktivitas perdagangan, pendidikan, permukiman, serta mobilitas penduduk yang tinggi. Kedekatannya dengan Jakarta turut mendorong perubahan wajah kawasan dari waktu ke waktu.
Kini, Ciputat dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat di Tangsel. Namun, di balik kepadatan lalu lintas dan pertumbuhan bangunan, nama Ciputat tetap menyimpan jejak sejarah yang menghubungkan kehidupan masa kini dengan kondisi wilayah pada masa lampau.
Penelusuran asal-usul Ciputat menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan sejarah lokal. Sebab, sejarah sebuah wilayah tidak hanya tercermin dari bangunan atau dokumen pemerintahan, tetapi juga dari nama tempat, cerita masyarakat, dan perubahan lingkungan yang membentuk identitasnya.
Editor : Doni Marhendro
Artikel Terkait
