Dari sisi hubungan internasional, Shofwan Al Banna Choiruzzad menyoroti proses demiliterisasi Gaza yang dinilai berlangsung tanpa tekanan memadai terhadap Israel. Ia menyebutkan bahwa kontrol Israel atas keamanan dan bantuan kemanusiaan membuat kondisi sipil di Gaza tidak memiliki jaminan perlindungan.
Sementara itu, ahli hukum internasional Prof. Hikmahanto Juwana menegaskan bahwa penguasaan tanah adalah inti dari konflik. “Jika rakyat Palestina kehilangan tanah dan hak kembali, maka tujuan Israel tercapai. Itu yang harus dicegah,” katanya.
Diskusi ditutup oleh Maryam Rachmayani yang memaparkan dukungan berkelanjutan masyarakat Indonesia, termasuk pemberdayaan perempuan Gaza. Ia menyebut program ekonomi perempuan sebagai salah satu upaya menjaga ketahanan warga Palestina secara jangka panjang.
Selain sesi panel, kegiatan juga menghadirkan Focus Group Discussion bertema We Are The Seeds yang mengajak pemuda berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Jurnalis senior Surya Fachrizal menekankan pentingnya peran media. “Media adalah garda depan penyampai fakta. Namun, kebebasan jurnalis sering dibungkam,” ujarnya.
Aktivis #BuyCut, Habib AMA, menambahkan bahwa boikot merupakan langkah realistis yang dapat dilakukan masyarakat. Fathia Fairuza menyoroti pentingnya dokumentasi hukum terkait dugaan kejahatan perang, sementara aktivis Chikita Fawzi menegaskan perlunya konsistensi dalam advokasi jangka panjang. Adara menyampaikan bahwa peserta forum ini nantinya akan melanjutkan proses menjadi bagian dari Saladin Mission Leadership Program angkatan kedua.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
