JAKARTA, iNewsTangsel - Tingkat adopsi dan ekspansi teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor industri global maupun nasional masih dihadapkan pada kendala teknis mendasar. Laporan Data Streaming 2026 dari Confluent mencatat sebanyak 72 persen pemimpin TI global mengeluhkan kurangnya infrastruktur data real-time sebagai penghambat utama.
Riset yang melibatkan 4.625 responden pemimpin TI dari berbagai negara termasuk Indonesia ini menyoroti perlunya pembenahan landasan sistem data dibanding sekadar menambah investasi model AI. Studi tersebut menggarisbawahi bahwa efektivitas pengembangan AI sangat bergantung pada kesiapan serta keandalan pemrosesan data secara langsung.
Masalah keterbatasan infrastruktur ini turut memberikan dampak langsung terhadap lambatnya komersialisasi serta penerapan AI otonom di lingkungan produksi bisnis. Kualitas data yang terfragmentasi membuat sebagian besar perusahaan masih mengoperasikan proyek AI dalam tahap penundaan maupun uji coba terbatas.
Pihak pengembang platform menekankan pentingnya ketersediaan data yang kontekstual dan akurat guna mendukung integrasi sistem AI yang berkelanjutan.
"Sistem AI bergantung pada informasi yang terkini dan akurat, namun masih terlalu banyak sistem yang dibangun berdasarkan data terfragmentasi," ujar Shaun Clowes, Chief Product Officer Confluent, dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/7/2026).
Menanggapi kendala pemrosesan batch tradisional tersebut, mayoritas pelaku TI kini mulai mengalihkan fokus investasi mereka ke platform data streaming. Langkah ini dinilai menjadi fondasi krusial untuk membuka jalan bagi optimalisasi dampak investasi kecerdasan buatan dalam skala industri yang lebih luas.
Pergeseran tren investasi ini bahkan menunjukkan bahwa prioritas pengembangan alur data kini mulai melampaui alokasi dana untuk pembelajaran mesin itu sendiri. Pemimpin TI global meyakini bahwa teknologi pemrosesan data secara langsung dapat meningkatkan derajat kepercayaan dan ketertemuan data perusahaan.
Kondisi ketimpangan antara ambisi digitalisasi dan kesiapan infrastruktur data ini tercatat berlangsung lebih menonjol di Indonesia. Sebanyak 82 persen pemimpin TI di tanah air mengaku menghadapi berbagai tantangan kompleks, dengan 79 persen di antaranya menyoroti minimnya fasilitas data real-time.
Meskipun dihadapkan pada kendala infrastruktur lama, para pelaku industri di Indonesia menunjukkan keyakinan paling tinggi terhadap efektivitas solusi data streaming. Hampir seluruh responden lokal meyakini bahwa pembenahan arsitektur aliran data dapat mempercepat skala adopsi AI di perusahaan mereka secara signifikan.
Langkah penguatan fondasi data ini dipandang sebagai prioritas strategis utama untuk menjembatani kesenjangan kapabilitas teknis di pasar domestik. "Para pemimpin TI di Indonesia meyakini bahwa data streaming dapat menutup kesenjangan ini, itulah sebabnya teknologi ini menggeser AI sebagai prioritas utama," pungkas Rully Moulany, Area Vice President Asia Confluent.
Editor : Aris
Artikel Terkait
