OPINI
Oleh: Suhendra Atmaja – Praktisi Komunikasi Perminyakan (suhendraa@fikom.untar.ac.id)
INDONENSIA sedang menghadapi paradoks energi. Di satu sisi, negeri ini memiliki potensi sumber daya migas yang cukup besar, sebut saja Indonesia masih memiliki potensi 128 Cekungan yang belum dikelola. Di sisi lain, produksi minyak terus menghadapi tekanan, sementara kebutuhan energi domestik semakin meningkat, akibatnya Indonesia terus menjadi negara net Importir minyak.
Dalam situasi seperti itu, di Forum Eastern Economic Forum yang dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden prabowo mengambil langkah menawarkan pengembangan 138 blok eksplorasi energi kepada perusahaan-perusahaan Rusia patut dilihat sebagai manuver strategis dan langkah yang jitu. Bukan sekadar diplomasi ekonomi, melainkan bagian dari pertaruhan besar Indonesia untuk menemukan cadangan migas baru di mata dunia.
Namun ada satu pertanyaan yang harus dijawab sejak awal: Apakah Indonesia sedang mencari investor, atau sedang mencari energi? Jawabannya tidak boleh berhenti pada investasi. Sebab investasi hanyalah pintu masuk. Tujuan akhirnya adalah penemuan cadangan, produksi, peningkatan lifting, penerimaan negara bertambah dan ketahanan energi nasional.
Indonesia Butuh Teknologi dan Uang Besar
Industri hulu migas adalah bisnis mahal (Hight Cost), teknologi yang tinggi (Hight tech) dan berisiko (hight risk). Eksplorasi membutuhkan modal besar, sementara tidak ada jaminan setiap pengeboran akan menemukan cadangan komersial atau ekonomis, selain itu teknologi yang digunakan dalam eksplorasi juga harus yang canggih.
Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, data 2025 menunjukkan investasi migas Indonesia mencapai sekitar USD17,99 miliar, dengan investasi hulu sekitar USD15,4 miliar. Pada 2026, pemerintah menargetkan investasi hulu sekitar US$16 miliar.(Bloomberg technoz, 22/05)
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
