Pantauan di lokasi, aksi sempat diwarnai ketegangan antara demonstran dan petugas keamanan. Meski demikian, situasi dapat dikendalikan dan aksi tetap berlangsung hingga selesai.
Presiden BEM UMJ, Iqbal Ramadhan, menyampaikan bahwa penumpukan sampah belakangan ini telah meresahkan masyarakat. Selain menimbulkan bau tak sedap, kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan kesehatan warga dan merusak lingkungan.
“Ini adalah aksi simbolik. Jika sampah di masyarakat tidak diurus dengan baik, maka kami kembalikan sampah ini ke pusat pemerintahan agar para pejabat dapat merasakan langsung dampaknya,” ujar Iqbal Ramadhan kepada iNewsTangsel di Balaikota Tangsel.
Mahasiswa menilai pemerintah daerah lamban dalam mengantisipasi krisis pengelolaan sampah, terutama terkait keterbatasan armada pengangkut serta ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dinilai sudah melebihi kapasitas.
Editor : Aris
Artikel Terkait
