Menurutnya, dampak program ini juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah di daerah. Sejumlah UMKM hingga peternak disebut mengalami peningkatan permintaan bahan pangan sejak dapur MBG mulai beroperasi.
Beberapa pelaku usaha bahkan mengaku harus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG. “Ada UMKM yang biasanya memproduksi roti sekitar 100 per hari, sekarang diminta hingga 2.000,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua BGN Bidang Komunikasi Publik Sony Sonjaya menjelaskan dapur yang dibangun di kawasan Masjid Agung Ats-Tsauroh akan menjadi pusat produksi makanan bergizi yang dikelola melalui sistem SPPG untuk wilayah Serang dan sekitarnya.
Dengan sistem tersebut, distribusi makanan diharapkan lebih terkoordinasi serta memenuhi standar gizi dan kebersihan. Penerima manfaat program antara lain siswa madrasah di sekitar masjid, anak yatim usia sekolah, hingga balita yang belum mendapatkan akses program MBG.
“Fasilitas ini diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi masyarakat sekaligus menjadi contoh pengelolaan dapur MBG di daerah lain,” kata Sony.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
